Pages

Sabtu, 15 Juni 2013

dodol pisang

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
     Pisang termasuk tanaman yang mudah tumbuh di daerah dataran rendah di lingkungan yang basah (Nakasone & Paull 1998). Di Indonesia budidaya pisang dilakukan di berbagai daerah, setiap daerah memiliki varietas pisang unggulan masing-masing. Potensi produksi buah pisang di Indonesia memiliki daerah sebaran buah pisang yang luas, hampir seluruh wilayah merupakan daerah penghasil pisang, yang ditanam di pekarangan maupun ladang, dan sebagian sudah ada dalam bentuk perkebunan. Jenis pisang yang ditanam mulai dari pisang untuk olahan (plantain) sampai jenis pisang komersial (banana) yang bernilai ekonomi tinggi. Buah pisang merupakan buah yang digemari masyarakat. Selain merupakan sumber zat pengatur, buah pisang juga merupakan sumber zat tenaga atau karbohidrat dan energi.
Pisang dibedakan beberapa golongan diantaranya pisang dari golongan 1, buahnya enak dimakan dalam keadaan segar seperti pisang raja. Pisang dari golongan 2, buahnya enak dimakan setelah dimasak dulu (direbus atau digoreng), seperti pisang kepok.
     Buah pisang ini mudah sekali mengalami perubahan fisiologis, kimia dan fisik bila tidak ditangani secara tepat. Akibatnya, dalam waktu singkat buah menjadi tidak segar lagi, sehingga mutunya akan menurun. cara untuk mempertahan daya simpan buah pisang dapat diolah menjadi berbagai macam produk olahan seperti sale pisang, gaplek (tepung pisang), sari buah pisang, anggur pisang, keripik pisang, selai pisang, pati pisang, dan lain lain.  Diversifikasi produk olahan buah pisang salah satu adalah dengan mengolahnya menjadi olahan seperti dodol rasa buah pisang Selain lebih tahan lama, pengolahan akan membuat rasa pisang  menjadi menjadi bervariasi. (Munif A. 1988).
       Dodol merupakan makanan tradisional yang cukup popular dibeberapa daerah Indonesia. Dodol diklasifikasikan menjadi dua, yaitu dodol yang diolah dari buah-buahan dan dodol yang diolah dari tepung-tepungan, antara lain tepung beras dan tepung ketan. Dodol buah terbuat dari daging buah matang yang dihancurkan, kemudian dimasak dengan penambahan gula dan bahan makanan lainnya atau tanpa penamabahan makanan lainnya. Gula merah yang digunakan dalam pembuatan dodol merupakan salah satu bahan baku utama yang berfungsi sebagai pembentuk tekstur,warna, rasa dan aroma. Pengolahan buah-buahan  menjadi dodol merupakan salah satu upaya untuk memperpanjang daya simpan buah dan menekan kehilangan pasca panen pada buah-buahan.
      Berdasarkan uraian tersebut, maka diperlukan suatu penelitian yang mendukung untuk menghasilkan dodol buah pisang yang berkualitas dilihat dari pengaruh bahan tambahan utamanya yaitu gula dan panggunaan varietas pisang yang berbeda.

1.2  Permasalahan
      Pisang merupakan salah satu buah yang mudah sekali mengalami perubahan fisiologis, kimia dan fisik bila tidak ditangani secara tepat, sehingga diperlukan adanya pengolahan variasi produk pisang salah satunya dengan membuat dodol dari buah pisang.  Berdasarkan uraian diatas, mengetahui dan mempelajari cara pembuatan dodol dengan menggunakan pisang kepok dan pisang raja dengan formulasi gula yang berbeda dan pengaruhnya terhadap tekstur, warna, rasa dan aroma.

1.3  Tujuan
     Adapun tujuan dari small project  ini adalah :
a.      Untuk mengetahui proses pembuatan dodol dari buah pisang dengan menggunakan pisang kepok dan pisang raja
b.      Untuk mengetahui perbedaan tekstur, aroma, rasa dan warna pembuatan dodol pisang dengan menggunakan pisang kepok dan pisang raja
c.       Untuk mengetahui formulasi penambahan gula pada pembuatan dodol pisang terhadap tekstur, warna, rasa dan aroma.

1.4  Luaran
      Memberikan informasi pada masyarakat tentang manfaat dari buah pisang yang dapat diolah menjadi suatu hasil olahan yaitu dodol. Disamping itu dengan divariasikannya buah pisang menjadi dodol diharapkan semakin banyak yang mengkomsusmsi dodol  tersebut.




1.5  Manfaat
Penelitian ini dapat memberikan kegunaan sebagai berikut :
  1. Menambah ilmu pengetahuan cara pembuatan dodol menggunakan buah pisang.
  2. Memberikan variasi berbeda produk olahan pisang sehingga menambah nilai jual buah pisang.




















BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Pisang
Tanaman pisang termasuk dalam golongan Monocotyledonae, famili Musaceae, genus Musa. Tanaman pisang merupakan tanaman herbaceous dan berkembang biak secara vegetatif (Nakasone & Paull 1988). Pisang dari golongan 1, buahnya enak dimakan dalam keadaan segar seperti pisang mas, pisang ambon, pisang raja, pisang susu, dan lainnya. Pisang dari golongan 2, buahnya enak dimakan setelah dimasak dulu (direbus atau digoreng), seperti pisang kepok, pisang sobo, pisang siem, dan pisang tanduk. Pisang dari golongan 3 termasuk golongan pisang yang mempunyai biji, misalnya pisang klutuk atau pisang batu (Munif A. 1988).
2.1.1            Karakteristik pisang yang digunakan
2.2.2.1 Pisang Raja
     Pisang raja menyimpan kandungan-kandungan zat kimia yang berkemampuan menyerupai beberapa jenis doping buatan. Berikut di bawah ini adalah tabel yang berisi kandungan nutrisi yang terdapat dalam 100 gram pisang raja yang sudah masak. (Kardarron, 2009).
Tabel 2.1 Kandungan Nutrisi Pisang Raja
No
Kandungan Nutrisi
Jumlah
1
Energi
122 Kkal
2
Air
65,28 gram
3
Protein
1,3 gram
4
Lemak
0,37 gram
5
Karbohidrat
31,89 gram
6
Serat
2,3 gram
7
Ampas
1,17 gram







                 Sumber : Munif A. ,1988

2.2.2.2 Pisang kepok
Pisang Kepok adalah salah satu jenis pisang komersi al yang banyak  diminati oleh masyarakat. Ada dua jenis pisang kepok, yaitu kepok putih dan kepok kuning. Namun yang lebih banyak diminati adalah pisang kepok kuning karena rasanya  yang lebih manis. Pisang kepok  (Musa paradisiaca formatypica) merupakan produk yang cukup perspektif dalam pengembangan sumber pangan lokal karena pisang dapat tumbuh di sembarang tempat sehingga produksi buahnya selalu tersedia, namun cepat rusak setelah lepas panen karena melalui proses klimaterik.
Tabel 2.2 Karakteristik pisang Kepok
Karalteristik
Pisang Kepok Putih
Warna Batang
Ungu kehijauan
Bentuk sisir
Tidak teratur
Buah pangkal tandan
Besar
Buah ujung  tandan
Besar
Jumalh sisir per tandan
5-7 Hari
Warna buah
Hijau
Warna daging buah
Putih
Rasa buah
Kurang manis
Bobot per buah
118-240 gr
Panjang buah
13-18,4 cm
Diameter buah
4,0-6,9 cm
Warna kulit buah mentah
Hijau muda
Warna kulit buah matang
Kuning cerah
Warna daging buah
Putih kekuningan
Tekstur buah
Halus
Kadar vitamin
7 – 9,2 mg / 100 g
Bobot per tandan
20-22 kg
                                    Sumber : Mufni A, 1988
Pisang kepok yang digunakan adalah pisang kepok putih yang memiliki rasa kurang manis, tekstur buah halus, dan warna daging buah putih kekuningan. Pisang jenis ini biasanya tidak dikonsumsi langsung sebagai pencuci mulut, tetapi diolah terlebih dahulu menjadi beragam jenis makanan ringan dari pisang yang relatif populer antara lain kripik pisang

2.2  Dodol
Dodol merupakan salah satu jenis produk olahan hasil pertanian yang bersifat semi basah, berwarna putih sampai cokelat, dibuat dari campuran tepung ketan, gula, dan santan. Pengolahan dodol sudah dikenal masyarakat, prosesnya sederhana, murah dan banyak menyerap tenaga kerja (Soemaatmadja,1997). Dodol terbuat dari daging buah matang yang dihancurkan, kemudian dimasak dengan penambahan gula dan bahan makanan lainnya atau tanpa penambahan bahan makanan lainnya. Sesuai dengan defenisi tersebut maka dalam pembuatan dodol buah-buahan diperbolehkan penambahan bahan lainnya seperti tepung ketan, tepung tapioka. Bahan-bahan yang ditambahkan harus sesuai dan tidak boleh lebih dari aturan yang berlaku (Satuhu dan Sunarmani,2004).  Makanan setengah basah adalah suatu makanan yang mempunyai kadar air yang tidak terlalu rendah. Tetapi makanan ini dapat bertahan lama selama penyimpanan oleh karena sebagian besar bakteri tidak dapat tumbuh pada aw 0,90 atau dibawahnya. Maka untuk membuat makanan setengah basah yang tahan lama selama penyimpanan, selain kadar air dibuat menjadi 10-15%, juga aw makanan harus dibawah 0,90 untuk mencegah pertumbuhan ragi dan kapang (Winarno,1980).
Pengolahan bahan pangan semi basah dikenal dua tipe kasar yaitu adsorbsi dan desorbsi, pada tipe adsorbsi bahan dikeringkan sambil diamati dengan penambahan kembali sampai diperoleh keseimbangan yang diinginkan, sedangkan tipe desorbsi bahan dimasukkan dalam larutan yang mempunyai tekanan osmosa yang lebih tinggi sampai diperoleh aw yang diinginkan (Ishak dan Sarinah, 1985).
Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) defenisi dodol adalah makanan yang dibuat dari tepung beras ketan, santan kelapa, dan gula dengan atau tanpa penambahan bahan makanan dan bahan lain yang diziinkan. Syarat mutu dodol dapat dilihat pada Tabel 2.3
Kriteria Uji
Satuan
Persyaratan
Bau
-
Normal/Khas dodol
Rasa
-
Normal/Khas dodol
Warna
-
Normal/Khas dodol
Kadar Air
% b/b
Maksimum 20
Jumlah gula sebagai sukrosa
% b/b
Minimum 45
Protein
% b/b
Minimal 3
Lemak
% b/b
Minimal 3
Bahan tambahan makanan
-
Sesuai dengan SNI 0222-M dan Peraturan Menteri Kesehatan no 722/Menkes/Per/Lx/88
Pemanis buatan
-
Tidak nyata
Cemaran logam


-       Timbal
Mg/kg
Maksimum 1,0
-       Timbal
Mg/kg
Maksimum 10,0
-       Seng
Mg/kg
Maksimum 40,0
-       Arsen
Mg/kg
Maksimum 0,5
Cemaran mikroba


-       Angka lempeng total
Koloni
Maksimum 400
-       E.coli
APM/G
3
-       Kapang dan khamir
Koloni/G
Maksimum 100
Sumber : Dewan Standarisasi Nasional 1992 dalam Satuhu
          Dari tabel SNI dodol diatas dapat diketahui bahwa beberapa poin harus sesuai dengan standart kandungan diatas. Dilihat dari segi warna yang normal atau khas dodol. Dimana warna khas dari dodol umunya adalah cokelat. Dari segi rasa normal atau khas dodol yang pada umumnya manis legit. Tekturnya sesuai dengan tekstur khas dodol yang kalis. Serta aromanya yang khas manis dodol. Jika dilihat dari penambahan bahan tambahan seperti gula menurut strandart SNI dodol harus memiliki minimal 45% kandungan gula sebagai sukrosa dan bahan tambahan lain yang sesuai dengan SNI tentang standart kesehatannya. Dalam pembuatan dodol ini menurut SNI tidak dianjurkan penggunaan pemanis buatan. Dan cemaran logam serta mikroba yang tidak berlebihan sesuai dengan tabel diatas.       

2.3 Prose Pembuatan Dodol           
Dalam pemrosesan pembuatan dodol, hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan dodol yaitu bahan-bahan dicampur bersama dalam kuali yang besar dan dimasak dengan api sedang. Dodol yang dimasak tidak boleh dibiarkan tanpa pengawasan, karena jika dibiarkan begitu saja, maka dodol tersebut akan hangus pada bagian bawahnya dan akan membentuk kerak. Oleh sebab itu, dalam proses pembuatannya campuran dodol harus diaduk terus menerus untuk mendapatkan hasil yang baik. Waktu pemasakan dodol kurang lebih membutuhkan waktu 2-3 jam pada suhu 80-900C dan jika kurang dari itu, dodol yang dimasak akan kurang enak untuk dimakan.
Setelah 2 jam, pada umumnya campuran dodol tersebut akan berubah warnanya menjadi cokelat pekat. Pada saat itu juga campuran dodol tersebut akan mendidih dan mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang terbentuk tidak meluap keluar dari kuali sampai saat dodol tersebut harus didinginkan dalam periuk yang besar. Untuk mendapatkan hasil yang baik dan rasa yang sedap, dodol harus berwarna cokelat tua, berkilat dan pekat. Setelah itu, dodol tersebut bisa dipotong dan dimakan (Anonim, 2010).



2.4  Karakteristik Bahan tambahan yang digunakan
Dalam proses pembuatan dodol ada beberapa bahan tambahan yang digunakan, diantaranya sebagai berikut :
2.3.2 Gula Merah
Menurut Reine (1985), gula aren adalah hasil olahan dari nira pohon aren (Arenga piñata).Gula merupakan senyawa organik penting sebagai bahan makanan. Disamping sebagai bahan makanan, gula digunakan juga sebagai bahan pengawet makanan. Gula merupakan senyawa kimia yang tergolong dalam kelompok karbohidrat, mempunyai rasa manis dan larut dalam air, serta mempunyai sifat optis merupakan ciri khas untuk mengenal setiap jenis gula (Gautara, 1980).
Gula yang digunakan dalam pembuatan dodol tradisional umumnya adalah gula aren yang umum dikenal sebagai gula merah. Menurut Sahutu (1994), syarat gula merah yang digunakan dalam pembuatan dodol yaitu cokelat, kering dan tidak kotor. Fungsi gula merah dalam pembuatan dodol ini yaitu memberikan aroma, rasa manis, mempercepat kekentalan, warna cokelat pada dodol, sebagai pengawet, membantu lapisan keras atau tekstur dodol.

2.3.2 Tepung Ketan
Tepung beras ketan berasal dari penggilingan beras ketan dimana agar mendapatkan hasil yang baik maka dipilih tepung beras ketan yang berwarna putih, kering, halus, tidak bau apek, buru dan halus, Berfungsi untuk merekatkan adonan (Sahutu, 1994). Beras ketan mengandung pati sekitar 87 persen dan selebihnya berupa lemak, protein, serat dan vitamin. Kandungan pati ini terdiri dari dua fraksi utama yaitu amilosa dan amilopektin (Juliano, 1967). Menurut Winarno (1981) kandungan amilopektin yang terdapat dalam tepung beras akan menyebabkan kepulenan.
Rasio amilosa dan amilopektin yang menyusun molekul pati berpengaruh terhadap kekakuan gel yang dihasilkan pati dengan kadar amilosa tinggi akan menghasilkan gel lebih kaku dibandingkan dengan kandungan amilosanya rendah. Pada proses pemanasan disamping terjadi pengembangan granula pati dan kelarutan akan meningkat, serta terjadi pembebasan amilosa yang mempunyai derajat polimerisasi rendah. Akibatnya larutan akan semakin kental dan bersifat merekat (Collison, 1968).

2.3.3 Santan
Santan kelapa adalah cairan berwarna putih susu yang diperoleh dengan pemerasan daging buah kelapa yang telah diparut dengan penambahan air dalam jumlah tertentu. Fungsi santan secara umum yaitu  sebagai penambah cita rasa dan aroma.
Santan penting dalam pembuatan dodol karena banyak mengandung minyak sehingga menghasilkan dodol yang lezat dan membentuk tekstur yang kalis. Santan dari buah kelapa (Cocos nucifera) yang diperoleh dengan cara pemarutan dan memerasnya dengan air. Santan berperan sebagai pemberi flavor dan mengurangi sifat melekatnya bahan penyusun dodol lainnya pada wadah pengolahan dodol. Santan kental penting dalam pembuatan dodol karena banyak mengandung lemak sehingga dihasilkan dodol yang mempunyai cita rasa yang lezat dan membentuk tekstur kalis. Santan encer berfungsi untuk mencairkan tepung dan untuk melarutkan gula.

2.3.4 Vanili
Vanili yang ditambahkan dapat berupa bubuk atau cairan (esencce). Penambahan vanili berfungsi untuk memperbaiki aroma terutama dodol buah yang terbuat dari tepung. Jumlah yang ditambahkan kurang lebih setengah sendok teh untuk setiap kilogram bahan (vanili dalam bentuk bubuk), atau satu sendok makan untuk vanili dalam bentuk cairan (Satuhu dkk,2006).

2.3.5  Air
Menurut Mudjajanto dan Yulianti (2004), air adalah bahan yang terpenting dalam proses pembuatan dodol, karena hanya dengan air dimungkinkan terjadi suatu dodol. Kandungan mineral dalam air dapat mempengaruhi kekerasan adonan, terutama untuk beberapa jenis tepung. Fungsi air dalam pembuatan dodol adalah sebagai pelarut bahan-bahan, gelatinisasi pati dan membantu aktifitas enzim. Banyaknya air yang ditambahkan bergantung pada kemampuan air dan sifat hasil akhir yang dikehendaki. Air yang digunakan harus memenuhi syarat air yang sehat yaitu:
(1). Syarat fisik artinya air tidak berwarna, berasa, berbau.
(2). Syarat kimia artinya air tidak mengandung bahan-bahan kimia seperti Fe, Hg, Pb, kekeruhan dan kesadahan.
(3). Syarat mikrobiologis artinya tidak mengandung bakteri coli.
Pemakaian air dalam pembuatan dodol mempunyai peranan yang penting, karena protein tepung dilarutkan oleh air. Jenis air yang digunakan adalah air dingin. Air terdiri dari molekul H2O yang berikatan satu sama lain dengan ikatan hidrogen yang bersifat polar. Ikatan hidrogen ini tidak hanya mengikat molekul-molekul air satu sama lain, tetapi dapat menyebabkan pembentukan hidrat antara air dengan senyawa-senyawa lain yang mempunyai kutub oksigen dan nitrogen. Sifat polar air tersebut melemahkan ikatan hidrogen dalam komponen lain, sehingga mempercepat pencampuran dalam pembentukan adonan.

2.5  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Dodol
      Dalam pembuatan dodol, kualitas dodol dipengaruhi oleh beberapa faktor.  Menurut Idrus (1994), faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas dodol adalah:
1.   Penimbangan bahan
                             Proses penimbangan bahan harus dilakukan dengan tepat dan menggunakan alat ukur yang standart. Penimbangan bahan yang dilakukan dengan tidak tepat akan menyebabkan kegagalan dalam pembuatan dodol.
2.   Kualitas bahan dan penggunaan bahan antara lain:
a. Tepung beras ketan
Tepung beras ketan dipilih tepung yang masih baru, tidak berbau apek dan bersih. Apabila tepung ketan yang digunakan sudah lama dan berbau apek maka akan berpengaruh terhadap rasa dan aroma dodol.
b. Gula
Gula yang digunakan dalam pembuatan yaitu gula kelapa. Gula kelapa yang digunakan adalah dipilih gula kelapa dari nira pohon kelapa dengan tekstur agak rapuh, kering dan bersih. Gula yang digunakan dalam jumlah yang tepat dan sesuai dengan ukuran. Penggunaan gula yang terlalu banyak akan menyebabkan warna dodol menjadi cokelat kehitaman dan tekstur menjadi keras. Penggunaan gula yang kurang juga akan mengakibatkan dodol dengan rasa kurang manis.
c. Santan
Santan dipilih dari kelapa yang sudah tua, santan masih segar dan bersih. Penggunaan santan sesuai dengan ukuran. Penggunaan santan yang terlalu banyak menyebabkan hasil dodol yang lembek dan cepat tengik. Penggunaan santan yang kurang akan mengakibatkan rasa dodol kurang gurih dan tekstur dodol kurang kalis.
d. Cara Memasak
Pemasakan dodol harus dilakukan dengan cara pengadukan secara continyu. Pengadukan yang kurang menyebabkan kualitas dodol kurang baik, kurang rata dan tidak kalis.
e. Lama Pemasakan
Waktu membuat dodol yaitu selama 2-3 jam. Apabila pemasakan kurang lama maka dodol kurang matang, tekstur tidak kalis, rasa dan aroma hilang.

















BAB 3. METEDOLOGI

3.1  Tempat dan Waktu Pelaksanaan
     Penelitian dilakukan dengan kunjungan lapang di UD PURNAMA JATI Jl. Kenanga no 8 blok A-9 pada hari Selasa tanggal 14 Mei 2013, kemudian dilakukan pembuatan dodol pisang yang dilaksanakan  di salah satu rumah anggota kelompok di Jl.Curah Kates No 104 Klompangan-Ajung pada hari Kamis tanggal 16 Mei 2013.

3.2  Bahan dan Alat
3.2.1      Bahan
a.    Pisang
b.    Gula merah
c.    Tepung ketan
d.    Garam
e.    Santan kental
f.     Air

3.2.2    Alat
                               a.       Timbangan analitik
                               b.       Blender
                               c.       gelas ukur
                               d.       baskom
                               e.       soxhlet
                                f.       kompor
                               g.       Sendok
                               h.       Saringan
                                 i.       Pengaduk
                                 j.       Pisau
                               k.       Wajan
                                 l.       Pnetrometer
                              m.       Color reader












3.3  Rancangan Kerja
Hari, Tanggal
Kerja
Tujuan
Kamis, 2 Mei 3012
Mencari Refrensi
Mencari refrensi yang digunakan untuk penetuan judul
Penentuan judul
Menentukan judul yang digunakan berkaitan dengan project yang ditugaskan
Pengerjaan Proposal :
Menyusun proposal small project yang digunakan untuk penelitian selanjutnya
Sabtu,4 Mei 2013
Penyusunan Proposal
Menyusun proposal small project yang digunakan untuk penelitian selanjutnya
Senin, 6 Mei 2013
Pembuatan PPT Proposal
Menyusun presentasi proposal small project
Selasa, 14 Mei 2013
Kunjuangan lapang :
a.    Wawancara
b.    Pengamatan prosedur kerja (pembuatan dodol)
Mencari informasi dan data yang berhubungan dengan prosedur pembuatan dodol di industri/ rumah produksi
Rabu, 13 Mei 2013
Pembelian bahan dodol pisang kepok dan pisang raja
Membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat dodol pisang dan pisang raja
Kamis, 16 Mei 2013
Pembuatan dodol pisang kepok dan pisang raja
Membuat dodol yang sesuai dengan prosedur kegiatan
Jumat, 17 Mei 2013
Pengamatan tekstur warna aroma dan rasa
Mengamati aroma dan rasa dodol serta mengetahui nilai tekstur dan warna dodol
Senin, 20 Mei 2013
Penyusunan laporan small project
Menyusun hasil pengamatan dan analisa data.
Jumat, 24 Mei 2013
Revisi Laporan small project
Merevisikan laporan kepada pengampu atau asisten untuk mengkoreksi laporan yang dikerjakan
Senin, 27 Mei 2013
Penyusunan laporan akhir small project
Menyusun laporan akhir small project yang telah direvisi oleh dosen pengampu atau asisten
Kamis, 30 Mei 2013
Presentasi PPT Laporan small project
Mempresentasikan hasil akhir laporan small project

3.4  Prosedur Pelaksanaan Kegiatan termasuk Diagram Alir
3.4.1      Prosedur pelaksanaan kegiatan
Prosedur pembuatan dodol buah dengen adalah sebagai berikut:
1.   Buah pisang (kepok dan raja) disortasi berdasarkan tingkat kematangannnya dengan memilih buah pisang yang sudah matang, dikupas kulitnya terlebih dahulu
2.   Setelah buah pisang ditimbang sebanyak 250 gram daging buah kemudian dihancurkan sambil ditambahkan santan cair sebanyak 100 ml secara bertahap untuk mendapatkan bubur buah pisang.
3.   Larutkan tepung ketan dengna air hingga mengental
4.   Larutankan gula sesuai formulasi ((P1: 50%gula merah ; P2: 40%gula merah) dengan santan secara bersamaan dalam pemanas sambil diaduk
5.   Bubur buah pisang yang sudah terbentuk dicampurkan dengan larutan gula merah
6.   Kemudian adonan bubur buah, gula merah dicampurkan dengan larutan tepung ketan sesuai dengan perlakuan penelitian (P1: 50% tepung ketan ; P2: 50% tepung ketan) kemudian diaduk secara merata.
7.   Dilakukan pencampuran, kemudian dilakukan pemanasan dan pengadukan dalam wajan hingga dodol kalis.
8.   Setelah terbentuk dodol, kemudian dikemas untuk dianalisa berdasarkan Uji organoleptik: Warna, Rasa, Aroma, dan Tekstur




















3.4.2 Diagram alir Pembuatan Dodol dari Pisang Kepok dan Pisang raja

 










.
Oval: Bubur buah  

 








Pemanasan dan pengadukan hingga kalis
T: 80C, t: 2  jam

 
.

 









3.5  Prosedur Pengamatan Parameter dan Analisa Data
Prosedur pengamatan parameter dan analisis data yang akan dilakukan dalam praktikum ini, adalah sebagai berikut :
3.5.1 Parameter
    1. Warna
Pengamatan sifat fisik pada dodol pisang kepok dan pisang raja ini dilakukan dengan pengujian pada  warna. Pengujian warna diukur menggunakan color reader. Pengamatan dilakukan berulang sebanyak tiga kali pengukuran           atau pengujian untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.
b. Tekstur
Pengamatan sifat fisik pada dodol pisang kepok dan pisang raja ini dilakukan dengan pengujian pada  tekstur. Pengujian tekstur diukur menggunakan pnetrometer Pengamatan dilakukan berulang sebanyak tiga kali pengukuran atau pengujian untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.
c. Aroma
   Pengamatan pada dodol pisang kepok dan pisang raja dilakukan dengan pengamatan menggunakan nilai (+). Dimana semakin + menunjukan aroma semakin khas dodol.
d. Rasa
   Pengamatan pada dodol pisang kepok dan pisang raja dilakukan dengan pengamatan menggunakan nilai (+). Dimana semakin + menunjukan rasa semakin khas dodol.

3.5.2 Analisis data
Data yang diperoleh diinterpretasikan dalam bentuk tabel atau grafik, kemudian dianalisis secara deskriptif.
           











BAB 4 HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil Kunjungan Lapang
Hasil kunjuangan lapang di Kunjuan lapang di UD PURNAMA JATI Jl.Kenanga no 8 blok A-9, kami mendapatkan informasi dimana pada pembuatan dodol Bahan utama pembuatan dodol yaitu santan, gula dan buah ( tergantung jenis dodol apa yang ingin kita buat) . Dalam dodol tape, bahan yang digunakan hanya gula kristal dan tape serta sedikit santan. Pada pembuatan dodol penggunakan  gula kristal akan lebih awet dibandingkan dengan dodol yang menggunakan gula merah. Dodol yang menggunakan gula kristal bisa tahan sampai 1 minggu jika disimpan di ruang biasa. Sedangkan dodol yang menggunakan gula merah 4-5 hari sudah rusak Yang penting jangan menggunakan gula kebanyakan karena dodol yang dihasilkan semakin keras.
     Penggunaan tepung ketan ini hanya sebagai pengental dan perekat. Sebenarnya jika tidak menggunakan tepung ketan juga tidak masalah, selain menggunakan tepung beras. Fungsinya hampir sama dengan tepung ketan. Tapi jika menggunakan tepung beras dodol yang dihasilkan lebih lembek
     Proses pembuatan dodol dimulai dengan  panaskan dulu loyang yang akan digunakan, setelah panas masukan bahan bahan seperti santan dan gula. Aduk hingga berminyak , kemudian masukan tepung ketan/ beras. Aduk hingga mengental. Dalam pembuatan dodol tape bahan yang berupa gula kristal , tape dan santan langsung dimasukan bersamaan . kemudian aduk hingga mengental. Bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan dodol yang jelas ada, misalanya untuk mengharumkan aroma dodol bisa ditambahkan vanili. Bahan tambahan lainnya tergantung produsen dan itu merupakan rahasia perusahaan
     Waktu ideal pembuatan dodol, biasanya jika membuat dodol tape waktu idelnya 3 jam. Tapi jika dodol biasa  waktunya tergantung berapa banyak konsentrasi bahan yang digunakan. Pada pembuatan dodol pengaruh tempat pemasakan dimana, tempat pemasakan sangat berpengaruh pada dodol yang dihasilkan. Dodol yang dimasak pada tungku kayu akan menghasilkan dodol yang berbau lebih harum / khas. Sedangkan yang dimasak pada kompor hasilnya kurang pas seperti baunya kurang menggoda konsumen.
     Sedangkan untuk besar api yang digunakan sebaiknya kecil , hal ini bertujuan agar menghasilkan panas yang merata sehingga  tingkat kematangan dodol merata.

4.2 Skema Kerja dan Fungsi Perlakuan
Langkah pertama untuk pembuatan dodol pisang kapok dan pisang raja adalah pilih pisang kapok dan pisang raja yang telah matang dan dagingnya lunak, kupas pisang kapok dan pisang raja setelah itu timbang masing-masing pisang menjadi 400  gram kemudian potong pisang tersebut menjadi kecil-kecil . Pemotongan ini bertujuan untuk memudahkan penghancuran pisang . Setelah itu tambahkan santan sebanyak 200 gram dan hancurkan bengan menggunakan blender.penambahan santan bertujuan untuk memudahkan penghalusan, untuk meminimalisir kemungkinan terjadi reaksi browning pada pisang ,sebaiknya proses pengupasan sampai pembuatan bubur pisang dilakukan dengan cepat. Santal kental penting dalam pembuatan dodol karena banyak mengandung lemak sehingga dihasilkan dodol yang mempunyai cita rasa yang lezat dan membentuk tekstur kalis. Sundari (1984), menyatakan bahwa santan dalam pengolahan bahan makanan dapat berfungsi sebagai media penghantar panas pada waktu pemasakan, menaikkan kelezatan (polabilitas) makanan dengan mempertinggi flavor, meminyaki makanan serta peralatan sehingga adonan tidak lengket pada alat, dan mempertinggi keempukan dodol. Penambahan ini akan memperbaiki kenampakan dodol dan lebih mengkilap.
Setelah setelah itu bagi masing masing buah menjadi 2 bagian sebanyak 250 gram buah pisang dan 100 gram tiap perlakuan. Campur bubur pisang kapok yang pertama dengan 50% gula merah dan 50% tepung ketan,bubur pisang kapok yang ke dua dengan 40% gula merah dan 50% tepung ketan. Bubur pisang raja yang pertama dengan dangan 50% gula merah dan 50% tepung ketan,dan bubur pisang raja yang ke dua dengan 40% gula merah dan 50% tepung ketan. Dimana 50% sebesar 350 gram dan 40% sebesar 280 dihitung dari berat total bahan setelah dikurangi berat bubur buah.
Penambahan tepung ketan bertujuan untuk memberi sifat kental sehingga membentuk tekstur dodol menjadi elastic. Tepung ketan yang ditambahkan mengandung pati sekitar 80 persen dan selebihnya berupa lemak, protein, serat dn vitamin. Kandungan pati ini terdiri dari dua fraksi utama yaitu amilosa dan amilopektin (Juliano, 1967). Menurut Winarno (1981) kandungan amilopektin yang terdapat dalam tepung beras akan menyebabkan kepulenan. Rasio amilosa dan amilopektin yang menyusun molekul pati berpengaruh terhadap kekakuan gel yang dihasilkan pati dengan kadar amilosa tinggi akan menghasilkan gel lebih kaku dibandingkan dengan kandungan amilosanya rendah.
       Setelah itu panaskan masing-masing perlakuan,sambil diaduk secara teratur agar adonan matang merata. Pemanasan dilakukan dangan suhu 80°C pada waktu kurang lebih 2 jam atau hingga adonan menjadi kalis,berminyak dan tidak lengket. Pada saat pemanasan pastikan suhu konstan atau tidak berubah agar kualitas dodol yang dihasilakn sesuai dengan yang diharapkan. Pada proses pemanasan disamping terjadi pengembangan granula pati juga akan kehilangan kekompakannya dan kelautan akan meningkat, serta terjadi pembebasan amilosa yang mempunyai derajat polimerisasi rendah. Akibatnya larutan akan semakin kental dan bersifat merekat(Collison, 1968). Tepung beras Kadar amilopektin yang tinggi menyebabkan sangat mudah terjadi gelatinisasi bila ditambahkan dengan air dan memperoleh perlakuan pemanasan. Hal ini terjadi karena adanya pengikatan hidrogen dan molekul-molekul tepung beras ketan (gel) yang bersifat kental (Hartati, 1996)
 Setelah dodol matang letakkan masing-masing dodol di masukkan ke dalam cetakan berbentuk baki. Adonan ditekan-tekan agar padat dan rata. Sebelum adonan dimasukkan, permukaan dalam baki dialasi dengan plastik atau daun pisang, hal ini bertujuan agar dodol tidak lengket pada baki. Setelah itu tunggu hingga dingin atau dodol cukup keras. Setelah cukup keras, dodol dikeluarkan dari cetakan dan dipotong-potong menurut ukuran yang dikehendaki untuk menganalisis tekstur,warna, rasa dan aromanya.
                  
4.3 Analisis data
4.3.1 Tekstur
Tekstur merupakan segi penting dari mutu makanan. Tekstur paling penting pada makanan lunak dan makanan ranggup atau renyah.Ciri yang paling sering diacu adalah kekerasan, kekohesifan, dan kandungan air.
Pembuatan dodol tekstur pada umunya dipengaruhi oleh beberapa bahan tambahannya. Adanya penambahan gula merah, pada pembuatan dodol mempengaruh tekstur, warna, dan rasa dimana gula memiliki daya larut yang tinggi kemampuannya mengurangi keseimbangan kelembapan relatif dan mengikat air. Selain itu gula juga memberikan pengaruh terhadap keketalan, pada pembuatan dodol gula yang dipanaskan membentuk proses karamelisasi.  Sehingga mempengaruhi pembentukan tekstur dan kekentalan gel.  
Pada pembuatan dodol,  diketahui bahwa tekstur dodol yang dihasilkan berbeda berdasarkan penambahan gula dan varietasnya. Penambahan gula merah berfungsi sebagai pembentuk tesktur dodol. Penambahan gula menurut Standar pembuatan dodo adalah 40% dari berat dodol keseluruhan. Dimana pada hasil produksi dodol diperoleh data :
                 Grafik 5.1. Nilai rata-rata tekstur dodol
Pada grafik diatas diketahui  bahwa dodol pisang kepok formulasi 50% tepung ketan dan 50% gula merah (P1) dihasilkan nilai tekstur rata-rata  76,3.  Sedangkan  pada dodol  pisang kepok dengan formulasi 50% tepung ketan dan 40% gula merah (P2) dihasilkan nilai tekstur rata-rata   28. Sedangkan pada dodol pisang raja formulasi 50% tepung ketan dan 50% gula merah (P1) dihasilkan nilai tekstur rata-rata 77,6. Dan dodol pisang raja dengan formulasi 50% tepung ketan dan 40% gula merah (P2) dihasilkan nilai tekstur rata-rata 41,3.
Hal ini terjadi karena penambahan gula yang berbeda yang berbeda pada setiap perlakuan pisang yang digunakan. Pada  standart pembuatan dodol gula merah yang ditambahahkan sebanyak 45% dari berat total sedangkan paada perlakuan P1 penambahan gula sebanyak 350 gram (50%) dan P2 sebanyak 280 gram (40%). Jika ditinjau demikian, pada penambahan gula merah P1, gula merah yang ditambahkan melebihi standart umum pembuatan dodol sehingga dodol yang dihasilkan lebih keras. Sedangkan pada penambahan gula merah P2, gula merah yang ditambahkan kurang dari standart umum pembuatan dodol sehingga dodol yang dihasilkan lebih lunak. Hal ini terjadi karena gula merah ditambahkan dengan salah satu fungsinya sebagai pembentuk tekstur yang mengalami proses karamelisasi yang mempengaruhi pembentukan kekentalan gel dan mempengaruhi tekstur dari dodol.
Apabila ditinjau dari segi varietas pisang, pisang raja memiliki tekstur yang lebih keras untuk perlakuan P1 (kepok formulasi 50% tepung ketan dan 50% gula merah) dan P2 (kepok formulasi 50% tepung ketan dan 40% gula merah) hal ini terjadi karena karakteristik pisang raja yang lebih keras dari pada pisang kepok. Ini dibuktikan saat melakukan proses pembuatan bubur buah pisang kepok dan raja, tekstur bubur pisang raja lebih kental dari pada pisang kepok. Sehingga pada saat pemanasan dan pengadukan dodol pisang raja lebih cepat kalis.  Sedangkan dodol pisang kepok memiliki tekstur lunak dari pada dodol pisang raja pada setiap perlakuan P1 (kepok formulasi 50% tepung ketan dan 50% gula merah) dan P2 (kepok formulasi 50% tepung ketan dan 40% gula merah) hal ini dikarenakan pisang kepok puith lebih halus daripada pisang raja sehingga pada pembuatan bubur buah tekstur bubur lebih encer dengan waktu pengkalisan bahan lebih lama.

4.3.2 Warna
Faktor yang menyebabkan bahan pangan mengalami perubahan warna adalah akibat pengaruh panas terhadap gula yang ditambahkan atau terdapat secara alami pada buah itu sendiri yang menyebabkan  terjadinya reaksi pencoklatan non enzimatik (Winarno, 2004) Ada lima hal yang dapat menyebabkan suatu bahan makanan berwarna yaitu:
                            a.        Pigmen yang secara alami terdapat pada tanaman dan hewan misalnya klorofil berwarna hijau, karoten berwarna jingga, dan mioglobin menyebabkan warna merah pada daging.
                            b.        Reaksi karamelisasi yang timbul pada saat gula dipanaskan membentuk warna coklat pada kembang gula karamel atau pada roti yang dibakar.
                            c.        Warna gelap yang timbul karena adanya reaksi maillard, yaitu antara gugus amino protein dengan gugus karboksil gula pereduksi, misalnya susu bubuk yang disimpan terlalu lama akan berwarna gelap.
                            d.        Reaksi antara senyawa organik dengan udara akan menghasilkan warna hitam, atau coklat gelap. Reaksi oksidasi ini dipercepat oleh adanya logam serta enzim, misalnya warna gelap pada permukaan apel atau kentang yang dipotong.
                            e.        Penambahan zat warna baik alami maupun warna sintetik, yang termasuk dalam golongan bahan aditif makanan (Winarno, 2004).
          Dalam pengamatan warna yang telah dilakukan pada dodol dengan menggunakan coloreader diperoleh data :
5.2. Grafik rata-rata warna pada setiap varietas dodol
          Diketahui bahwa dodol pisang kepok dengan konsentrasi gula 350 gram memiliki nilai light sebesar 23,8 dan pada dodol pisang kapok dengan konsentrasi gula 280 gram memiliki nilai light lebih tinggi yaitu sebesar 25,5. Hal tersebut terjadi karena pengaruh penambahan konsentrasi gula yang berbeda sehingga pencoklatan yang terjadi juga berbeda. Penggunaan gula yang terlalu banyak akan menyebabkan warna dodol menjadi cokelat kehitaman. Sedangkan pada dodol pisang raja dengan konsentrasi gula 350 gram memiliki nilai light sebesar 23,4 dan dodol pisang raja dengan konsentrasi gula 280 gram memiliki nilai light sebesar 23,8 perbedaan yang tipis ini dipengaruhi oleh konsentrasi gula yang berbeda pula, sehingga pencoklatan yang terjadi juga berbeda.
Jika dibandingkan antara dodol pisang kapok dan pisang raja warna yang diperoleh berbeda, pada dodol pisang kapok dengan konsentrasi gula 350 gram memiliki warna coklat kehijauan dan pada dodol pisang raja dengan konsentrasi gula yang sama memiliki warna yang lebih hitam. Sedangkan pada dodol pisang kapok dengan konsentrasi gula 280 gram memiliki warna kehijau-hijauan dan pada dodol pisang raja dengan konsentrasi gula yang sama pula, memiliki warna yang lebih coklat seperti caramel.
Hal ini dimana reaksi karamelisasi yang timbul pada saat gula dipanaskan bersama tepung dan santan menyebabkan terbentuknya pencoklatan tersebut. Selain itu disini juga terdapat adanya penyimpangan pada dodol pisang raja dengan konsentrasi gula 350 gram yang disebabkan oleh suhu yang digunakan serta lama pemasakan karena semakin besar suhu yang digunakan dan maka dodol akan mengalami pemasakan yang lebih cepat, dan menyebabkan dodol tersebut manjadi hangus sehingga warna yang dihasilkan akan lebih hitam pula. Lamanya pemasakan yang dilakukan dapat menyebabkan dodol tersebut mengalami dekolorisasi bahan yang berlebihan sehingga  warna yang dihasilkan menjadi lebih hitam. 

4.3.3 Aroma dan Rasa
 a.  Rasa
Rasa berbeda bau dan lebih melibatkan lidah. Penginderaan cecapan dapat dibagi menjadi empat yaitu: asin, asam, pahit, dan manis. Rasa makanan dapat dikenali dan dibedakan oleh kucup-kucup cecapan yang terletak pada paila yaitu bagian noda merah jingga pada lidah (Winarno, 2004). Rasa dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu senyawa kimia, suhu, konsentrasi, dan interaksi dengan komponen rasa yang lain. Berbagai senyawa kimia menimbulkan rasa yang berbeda. Rasa asam disebabkan oleh donor proton, misalnya asam pada cuka, buah buahan, sayuran, dan garam asam seperti cream of tartar. Intensitas rasa asam tergantung pada ion H+ yang dihasilkan dari hidrolisis asam. Rasa asin dihasilkan oleh garam-garam organik lainnya seperti garam ionida dan bromida mempunyai rasa pahit. Sedangkan garam-garam Pb dan Be mempunyai rasa manis. Rasa manis disebabkan oleh senyawa organik alifatik yang mengandung gugus OH seperti alkohol, beberapa asam amino, aldehida, dan gliserol. Sumber rasa manis yang terutama adalah gula dan sukrosa dan monosakarida dan disakarida. Sedangkan rasa pahit disebabkan oleh alkoloid-alkoloid, misalnya kafein, teobromin, kuinon, glikosida, senyawa fenol seperti narigin, garam-garam mg, NH4 dan Ca (Winarno, 2004).
Rasa merupakan salah satu faktor dalam pengujian organoleptik. Rasa lebih banyak melibatkan indera lidah. Rasa yang enak dapat menarik perhatian konsumen sehingga konsumen lebih cenderung menyukai makanan dari rasanya. Cita rasa dari bahan pangan sesungguhnya terdiri dari tiga komponen yaitu: bau, rasa, dan ransangan mulut (Rampengan dkk., 1985). Rasa adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi penerimaan seseorang terhadap makanan. Selera manusia yang sangat beragam yang menyebabkan rasa susah dimengerti secara tuntas.
Dodol terasa manis karena dalam bahan baku pembuatan dodol terdapat gula merah . Selain itu senyawa volatil dalam buah pisang juga memberikan rasa manis pada dodol. Karena adanya komponen kompnen tersebut mengakibatkan dodol terasa manis. Ditinjau dari lama pemanasan, lama pemanasan mempengaruhi banyak sedikitnya karamel yang terbentuk akibat proses karamelisasi dari gula yang menyebabkan timbulnya rasa pahit. Semakin lama pemanasan, maka gula yang mengalami karamelisasi semakin banyak sehingga rasa bahan pangan yang di produksi semakin pahit
Hasil pengujian sensorik terhadap rasa pada dodol pisang yang dilakukan menunjukkan bahwa dodol yang menghasilkan rasa paling manis terdapat pada dodol yang terbuat dari pisang raja dengan konsentrasi gula 280 gram. Hal ini karena cara pemasakan yang tepat sehingga dodol yang dihasilkan mempunyai cita rasa yang enak . Berbeda dengan dodol yang terbuat dari pisang raja dengan konsentrasi gula 350 gram. Dodol yang seharusnya menghasilkan rasa manis paling tinggi ternyata rasanya kalah manis dengan dodol yang terbuat dari pisang raja dengan konsentrsasi gula 280 gram. Hal ini karena dodol yang terbuat dari pisang raja dengan konsentrasi gula 350 gram mengalami over cooking yang menyebabkan gula mengalami karemelisasi kerena pengaruh pemanasan yang lebih lama. Akibat dari karamelisasi yang berlebihan tersebut dodol yang seharusnya rasanya manis karena kandungan gula didalamnya rasanya menjadi tidak terlalu manis.
Dodol yang terbuat dari pisang kepok dengan konsentrasi gula 280 gram juga mempunyai rasa yang manis tetapi masih kalah manis dengan dodol yang terbuat dari pisang raja dengan konsentrasi gula 350 gram. Hal itu karena pada dasarnya pisang kepok yang digunakan adalah pisang kepok putih yang mempunyai rasa kurang manis. Sehingga dengan penambahan gula yang sama 50% dan 40% seperti pada pisang raja menghasilkan rasa manis yang berbeda karena sifat rasa alami pisang yang berbeda.

b. Aroma
Adanya senyawa volatil pada buah dapat memberikan aroma yang khas. Senyawa volatil ini merupakan persenyawaan terbang yang sekalipun dalam jumlah kecil namun sangat berpengaruh pada flavour. Kebanyakan merupakan ester-ester alkohol alifatis juga aldehid, keto, dan lai-lain. Produksi zat-zat ini biasanya dimulai pada masa klimaterik dan dilanjutkan pada proses penuaan (Apandi, 1984). Bahan makanan umumnya dapat dikenali dengan mencium aromanya. Aroma mempunyai peranan yang sangat penting dalam penentuan derajat penilaian dan kualitas suatu bahan pangan, seseorang yang menghadapi makanan baru, maka selain bentuk dan warna, bau atau aroma akan menjadi perhatian utamanya sesudah bau diterima maka penentuan selanjutnya adalah cita rasa disamping teksturnya (Sultantry dan Kaseger, 1985).
Aroma umumnya didapat dengan menganalisa hasil penciuman. Aroma mempunyai peranan yang sangat penting dalam penentuan derajat penilain dan kualitas suatu bahan pangan. Selain bentuk dan warna, bau atau aroma akan berpengaruh dan menjadi perhatian utama. Sesudah bau diterima maka penentuan selanjutnya adalah cita rasa disamping teksturnya (Rubianty dan Berty, 1985).
Hasil pengujian sensorik terhadap aroma pada dodol pisang yang dihasilkan menunjukkan bahwa dodol yang terbuat dari pisang kepok dengan konsentrasi gula 280 gram tidak tercium bau harum, karena penambahan gula yang 40% atau dibawah standart normal. Hal ini juga terjadi pada dodol yang terbuat dari pisang raja dengan konsentrasi gula 350. Tidak terciumnya bau harum tersebut dikarenakan dodol yang diproduksi  sedikit over cooking sehingga senyawa - senyawa volatil dalam buah rusak dan menguap dan bau khas dodol sedikit tercium. Pada dodol yang terbuat dengan penambahan gula sebesar 350 gram baik pisang kepok dan pisang raja aromanya harum atau bau khas dodol. Tetapi  aroma yang paling mencolok terdapat pada dodol yang terbuat dari pisang raja. Hal ini karena pada dasarnya pisang raja aromanya lebih harum karena kandungan senyawa volatil yang lebih komplek seperti ester-ester alkohol alifatis juga aldehid, keto, dan lai-lain . Tetapi dari semua produk yang dihasilkan ,  tidak satupun produk yang terdapat aroma pisang dikarenakan penambahan gula merah mengakibatkan senyawa volatol dalam buah tidak tercium pada dodol. Dari data tersebut, dodol yang berbau harum atau bau khas dodol berasal dari bahan bahan yang digunakan dalam pembuatan dodol seperti gula merah yang menimbulkan aroma khas dodol. Ditinjau dari lama pemanasan, lama pemanasan mengakibatkan gula mengalami karamelisasi yang menimbulkan aroma gosong. Sehingga semakin lama dodol dimasak, maka gula yang mengalami karamelisasi semakin banyak dan aromanya semakin kurang sedap.



















BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari pengamatan dan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
a.      Pada pembuatan dodol, tekstur yang dihasilkan berbeda sesuai dengan varietas pisang yang digunakan dimana pisang kepok lebih lunak dari pada pisang raja dan rasanya kurang manis daripada pisang raja. Serta penambahan gula yang mempengaruhi proses karamelisasi dalam membentuk tekstur dodol.
b.      Dodol pisang kapok dan pisang raja warna yang diperoleh berbeda tergantung penambahan dan varietas pisang yang digunakan hal ini dimana reaksi karamelisasi yang timbul pada saat gula dipanaskan bersama tepung dan santan menyebabkan terbentuknya pencoklatan tersebut
c.      Dodol pisang yang dilakukan menunjukkan bahwa dodol yang menghasilkan rasa paling manis terdapat pada dodol yang terbuat dari pisang raja dengan konsentrasi gula 280 gram.
d.      Pada dodol 350 gram pada kedua varietas pisang tidak terciumnya bau harum tersebut dikarenakan dodol yang diproduksi  sedikit over cooking sehingga senyawa - senyawa volatil dalam buah rusak dan menguap dan bau khas dodol sedikit tercium.
e.      Dari semua data pengamatan yang diperoleh didapatkan dodol pisang dengan tekstur,warna, rasa dan aroma yang sesuai atau terbaik. Menurut penelitian yang dilakukan dodol yang memiliki rasa dan aroma khas dodol adalah dodol yang terbuat dari pisang raja dengan konsentrasi 40% penambahan gula. Sedangkan dodol yang memiliki tekstur dan warna yang khas dodol pada pisang kepok 50% penambahan gula.

5.2 Saran
     Dalam melakukan penelitian pembuatan dodol ini kami sarankan untuk memperhatikan penimbangan dan formulasi bahan-bahan tambahan yang sesuai dengan strandart. Serta mempehatikan waktu pemasakan yang mempengaruhi hasil dari dodol yang dibuat.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar